inovasi

Hendri Saputra 1000878593

Abstrak

Inovasi merupakan gabungan dari kemampuan, leadership (kepemimpinan), semangat enterprenuer/kewirausahaan dan komitmen. Oleh karena itu, setiap langkah yang dilakukan harus berdasar pada inovasi. Inovasi tidak hanya berurusan dengan pengetahuan baru dan cara-cara baru, tetapi juga dengan nilai-nilai, karena harus bisa membawa hasil yang lebih baik. Nilai-nilai ini berhubungan dengan cara pandang atau prespektif yang dimiliki oleh manusia atau kelompok sosial di masyarakat. Jadi selain melibatkan iptek baru, inovasi juga melibatkan cara pandang dan perubahan sosial.

Kata Kunci

inovasi, kreatif

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Banyak para pakar atau ahli manajemen yang menyatakan bahwa inovasi merupakan salah satu jaminan untuk perusahaan atau organisasi dalam meningkatkan daya saingnya. Pernyataan tersebut banyak didukung dengan hasil penelitian atau bukti empiris. Berbagai indikator menunjukkan bahwa ketertinggalan dalam hal inovasi atau faktor terkaitnya lainnya bisa menyebabkan sebuah negara relatif tertinggal perkembangan ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya. Tetapi bagaimana menyikapi dan mengantisipasi ketertinggalan tersebut melalui sebuah inovasi bukanlah suatu jawaban yang sederhana dan mudah.

Berbagai indikator menunjukkan bahwa Indonesia sendiri masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain dalam percaturan ekonomi dunia yang sudah mengarah ke era informasi dan globalisasi. Hal ini bisa dilihat dari indikator Global Competitiveness Index, ICT Development Index, E-Readiness, Network Readiness Index, dan Human Development Index yang merupakan indikator yang sering digunakan untuk mengukur sejauh mana posisi sebuah negara dalam lingkungan dan persaingan global.

Ketertinggalan Indonesia yang diukur dari berbagai indikator tersebut ternyata ada kaitannya dengan sejumlah indikator makro ekonomi. Semakin tinggi derajat indikator tersebut ternyata semakin tinggi tingkat perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sebuah negara. Fenomena tersebut tentunya menjadi tantangan besar bagi Indonesia di masa yang akan datang, terutama dikaitkan dengan strategi, baik di tingkat makro mapupun di tingkat mikro, untuk meningkatkan daya saing di masa yang akan datang.

Salah satu kunci meningkatkan daya saing tersebut adalah mendorong laju inovasi sebuah perusahaan agar bisa bersaing, baik di tingkat lokal, nasional, dan lingkungan global. Tetapi pernyataan teoritis tersebut tidaklah mudah diterapkan di tingkatan empiris. Inovasi bukanlah sesuatu yang sederhana dan juga bukan suatu resep mujarab yang bisa diperoleh dengan mudah oleh setiap organisasi yang mempunyai penyakit dengan gejala yang sama yaitu rendahnya daya saing.

Tulisan ini lebih dititikberatkan pada tinjauan teoritis dan analisis praktis terhadap strategi pemanfaatan modal intelektual dan teknologi informasi sebagai salah satu kunci atau basis dalam meningkatkan laju inovasi di perusahaan. Sebagai latar belakang arti pentingnya sebuah inovasi bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia, penulis memberikan tinjauan teoritis mengenai posisi daya saing Indonesia di percaturan global serta pengertian dan cara pengukuran inovasi itu sendiri.

1.2 Ruang Lingkup

Ruang lingkup dari pembahasan inovasi pada paper ini adalah sebagai berikut :

· Pengertian Inovasi

· Dimensi Penilaian Inovasi

· Faktor inovasi

· Faktor penyebab kegagalan inovasi

· Faktor penunjang inovasi

· Karakteristik inovasi

· Inovasi yang baik

· Latar belakang munculnya inovasi

· Hubungan kreatifitas dan inovasi

· Tujuan inovasi

· Sistem inovasi nasional

· Manfaat inovasi

· Gagasan kreatif penunjang inovasi

· Inovasi titik temu

· Kewirausahaan dan inovasi

· Tiga aspek kunci untuk menjadi sang jawara inovasi

· Innovator dan imitator

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan paper ini adalah sebagai berikut :

· Menjelaskan tentang Inovasi

· Menjelaskan dimensi Penilaian Inovasi

· Mencari tahu faktor inovasi

· Mencari tahu faktor penyebab kegagalan inovasi

· Mencari tahu faktor penunjang inovasi

· Menjelaskan karakteristik inovasi

· Menjelaskan inovasi yang baik

· Menemukan latar belakang munculnya inovasi

· Mencari hubungan kreatifitas dan inovasi

· Menjelaskan tujuan inovasi

· Menjelaskan sistem inovasi nasional

· menjelaskan manfaat inovasi

· Mencari gagasan kreatif penunjang inovasi

· Menjelaskan inovasi titik temu

· Menjelaskan kewirausahaan dan inovasi

· Menjelaskan tiga aspek kunci untuk menjadi sang jawara inovasi

· Mencari tahu perbedaan innovator dan imitator

1.4 Manfaat

Manfaat dari penulisan paper ini adalah sebagai berikut :

· Menemukan pengertian Inovasi

· Menemukan dimensi Penilaian Inovasi

· Mengetahui faktor inovasi

· Mengetahui faktor penyebab kegagalan inovasi

· Mengetahui faktor penunjang inovasi

· Mengetahui karakteristik inovasi

· Mengetahui inovasi yang baik

· Mengetahui latar belakang munculnya inovasi

· Menemukan hubungan kreatifitas dan inovasi

· Mengetahui tujuan inovasi

· Mengetahui sistem inovasi nasional

· Mengenal manfaat inovasi

· Mengetahui gagasan kreatif penunjang inovasi

· Mengenal inovasi titik temu

· Mengetahui kewirausahaan dan inovasi

· Mengetahui tiga aspek kunci untuk menjadi sang jawara inovasi

· Mengerti perbedaan innovator dan imitator

1.5 Metodologi

Metodologi yang digunakan dalam penulisan paper ini adalah metode pustaka, yaitu dengan mencari bahan dari buku-buku atau sumber-sumber lain yang dapat kita temukan melalui media pustaka/perpustakaan baik itu perpustakaan nyata ataupun perpustakaan maya/e-library, membaca, kemudian memahami isi buku tersebut.


BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Inovasi

Menurut Rasli (p29,) inovasi adalah perkataan yang berasal daripada bahasa Latin ‘innovare’ yang bermaksud memperbaharui atau meminda. Setiap perniagaan mesti melalui proses inovasi dari semasa ke semasa untuk menjamin kesinambungan operasinya. Menurutnya, proses inovasi adalah satu proses yang berterusan bagi memastikan perusahaan akan dapat meneruskan persaingan dalam pasaran.

Menurut Hussin(p60, ) inovasi bisa dirumuskan sebagai satu proses penambahbaikan kepada pengeluaran sesuatu produk atau peningkatan sesuatu perkhidmatan, dengan menggunakan idea-idea baru. Perubahan ini bagi memenuhi kehendak dan tuntutan pelanggan serta meningkatkan keuntungan sesebuah organisasi.

2.2 Dimensi Penilaian Inovasi

Menurut Rasli (p32,) Dimensi penilaian yang penting yang perlu dinilai adalah :

1. Sumber-sumber yang sedia ada :

· Tahap pembiayaan aktiviti penyelidikan dan pembangunan berbandingan dengan peratusan jualan dan pesaing utama.

· Kekuatan dan kemahiran personel dalam penyelidikan dan pembangunan (R&D), kejuruteraan dan penyelidikan pemasaran

· Kompetensi yang unik dalam bidang teknologi yang berkaitan dengan perniagaan yang dijalankan

· Tahap perbelanjaan untuk R&D berkaitan dengan penyelidikan penerokaan, aktiviti pengukuhan perniagaan sedia ada dan perniagaan baru.

2. Menilai strategi inovasi syarikat pesaing :

· Sistem perisikan dan banyak data yang diperoleh

· Keupayaan untuk mengenal pasti , menganalisis dan meramal strategi inovatif syarikat pesaing

· Keupayaan untuk mengenal pasti dan meramal kekuatan-kekuatan luaran yang mempengaruhi strategi inovasi.

3. Menilai persekitaran teknologi :

· Keupayaan untuk meramal teknologi dalam pelbagai bidang

· Keupayaan untuk meramal kesan-silang antara pelbagai bidang

· Keupayaan untuk mengenal pasti peluang teknologi dalam pelbagai bidang.

4. Menilai struktur dan budaya organisasi :

· Mekanisme untuk mengurus aktiviti R&D

· Keupayaan untuk mengurus pemindahan teknologi daripada penyelidikan kepada proses pembangunan.

· Keupayaan untuk mengintegrasikan pelbagai bahagian (R&D, pengeluaran, kejuruteraan dan pemasaran) dalam organisasi untuk proses pembangunan produk baru.

· Keupayaan untuk berkongsi teknologi antara jabatan-jabatan

· Keupayaan pengurusan untuk strategi pembangunan korporat dan memimpin inovasi

· Sistem penilaian dan ganjaran untuk personel yang inovatif

· Nilai dan definisi kejayaan yang dominan.

2.3 Faktor Inovasi

Menurut Hussin (p60,) terdapat delapan set factor yang mempengaruhi kejayaan sesuatu inovasi. Antaranya adalah :

1. Mengadakan hubungan baik dengan organisasi luar melalui amalan komunikasi dua hala dan bersedia untuk menerima dan mengadaptasi idea-idea dari luar

2. Menganggap inovasi sebagai satu usaha jangka panjang yang menuntut kepada penglibatan semua pihak dari peringkat awal.

3. Mengadakan perancangan rapi mengikut prosedur-prosedur yang telah ditetapkan. Ia memerlukan komitmen semua pihak terutama pihak atasan organisasi.

4. Ia menuntut kepada kerja-kerja yang berkualiti seperti mengamalkan kawalan mutu.

5. Perlu juga dibina strong market orientation mengikut kehendak dan keperluan pengguna

6. Memerlukan penyediaan perkhidmatan teknikal yang terbaik kepada pengguna.

7. Possessing the presence certain key individuals sebagai contoh product champions dan sebagainya.

8. Melaksanakan pengurusan yang berkualiti iaitu dinamik, bermotivasi, dan berfikiran terbuka. Cara ini dapat mengekalkan pentadbir atau pengurus yang talented dan komited.

2.4 Faktor penyebab kegagalan

Menurut (p359,) Faktor penyebab kegagalan inovasi adalah sebagai berikut :

1. Posisi yang tidak kompetitif

2. Andaian pasaran yang tidak tepat

a. Salah andaian tentang pasaran dan pengguna

b. Salah andaian tentang pesaing

c. Salah kiraan dalam kos pengeluaran

3. Prestasi teknikal yang terhadang

a. Kegagalan teknikal yang disebabkan oleh proses pembangunan prototype yang tidak realistic

b. Kelemahan teknikal

4. Kepakaran pengeluaran yang terhad

a. Teknologi pemrosesan yang lemah

b. Kos pengeluaran yang tinggi

5. Sumber kewenangan yang tidak mencukupi

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Faktor Penunjang Inovasi

Inovasi dapat ditunjang oleh beberapa factor pendukung seperti :

1. Adanya keinginan untuk merubah diri, dari tidak bisa menjadi bisa dan dari tidak tahu menjadi tahu.

2. Adanya kebebasan untuk berekspresi

3. Adanya pembimbing yang berwawasan luas dan kreaktif

4. Tersedianya sarana dan prasarana

5. Kondisi lingkungan yang harmonis, baik lingkungan keluarga, pergaulan, maupun sekolah.

Ciri – ciri manusia kreaktif dan inovatif biasanya tercermin dari tingkah laku sehari – hari antara lain sebagai berikut :

1. Disiplin dalam bertindak

2. Umumnya taat pada aturan hukum

3. Selalu bersemangat

4. Cerdas dan cerdik

5. Mempunyai kelebihan dalam kekuatan fisik, artinya dapat melakukan pekerjaan berjam – jam lamanya.

6. Menonjol dalam kemandirian

7. Berani menanggung resiko

8. Mempunyai daya imajinasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan teman sebayanya.

3.2 Karakteristik Inovasi

Lima karakteristik inovasi meliputi:

1) keunggulan relatif (relative advantage),

2) kompatibilitas (compatibility),

3) kerumitan (complexity),

4) kemampuan diuji cobakan (trialability) dan

5) kemampuan diamati (observability).

Keunggulan relatif adalah derajat dimana suatu inovasi dianggap lebih baik/unggul dari yang pernah ada sebelumnya. Hal ini dapat diukur dari beberapa segi, seperti segi eknomi, prestise social, kenyamanan, kepuasan dan lain-lain. Semakin besar keunggulan relatif dirasakan oleh pengadopsi, semakin cepat inovasi tersebut dapat diadopsi.

Kompatibilitas adalah derajat dimana inovasi tersebut dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman masa lalu dan kebutuhan pengadopsi. Sebagai contoh, jika suatu inovasi atau ide baru tertentu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, maka inovasi itu tidak dapat diadopsi dengan mudah sebagaimana halnya dengan inovasi yang sesuai (compatible).

Kerumitan adalah derajat dimana inovasi dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dipahami dan digunakan. Beberapa inovasi tertentu ada yang dengan mudah dapat dimengerti dan digunakan oleh pengadopsi dan ada pula yang sebaliknya. Semakin mudah dipahami dan dimengerti oleh pengadopsi, maka semakin cepat suatu inovasi dapat diadopsi.

Kemampuan untuk diuji cobakan adalah derajat dimana suatu inovasi dapat diuji-coba batas tertentu. Suatu inovasi yang dapat di uji-cobakan dalam seting sesungguhnya umumnya akan lebih cepat diadopsi. Jadi, agar dapat dengan cepat diadopsi, suatu inovasi sebaiknya harus mampu menunjukan (mendemonstrasikan) keunggulannya.

Kemampuan untuk diamati adalah derajat dimana hasil suatu inovasi dapat terlihat oleh orang lain. Semakin mudah seseorang melihat hasil dari suatu inovasi, semakin besar kemungkinan orang atau sekelompok orang tersebut mengadopsi. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin besar keunggulan relatif; kesesuaian (compatibility); kemampuan untuk diuji cobakan dan kemampuan untuk diamati serta semakin kecil kerumitannya, maka semakin cepat kemungkinan inovasi tersebut dapat diadopsi.

3.3 Inovasi yang Baik

Untuk melakukan suatu inovasi, seringkali perusahaan harus melakukan perubahan besar, mulai dari mengubah prosedur, struktur organisasi, mengubah model bisnis, bahkan membentuk unit bisnis yang baru. Untuk menentukan perubahan seperti apa yang dibutuhkan oleh organisasi, maka terlebih dulu harus dipahami mengenai tantangan apa yang dihadirkan oleh inovasi.

Pertama, customer challenge, yakni sejauh mana Anda dapat menjangkau pelanggan selain dari pelanggan lama. Contohnya adalah Nintendo Wii, yang berhasil menjangkau target pelanggan baru, yakni orang-orang yang sebelumnya tidak pernah memainkan video game. Kedua, yakni technology challenge, misalnya PS3, dimana Sony menemukan superprocessor baru untuk konsol game dan pelanggan mereka. Terakhir, business model challenge, yakni tantangan bagaimana perusahaan bisa menghasilkan uang melalui value chain yang baru.

Terdapat 5 hal yang perlu dilakukan oleh organisasi demi menciptakan suatu inovasi. Pertama yakni tugas organisasional meliputi penetapan tujuan serta peraturan dan aturan main yang berlaku; Kedua, yakni membentuk tim, karena tim merupakan kunci sukses dari inovasi; Ketiga, yaitu bekerjasama dengan pelanggan dalam menciptakan inovasi; Keempat yakni melakukan perubahan organisasional yang dibutuhkan; dan kelima yakni membangun momentum yang tepat dengan inovasi Anda.

Contoh perusahaan yang konsisten dengan aktivitas inovasi adalah Google. Google mempunyai prosedur-prosedur ala mereka sendiri dalam melakukan inovasi, dimana inovasi yang dilakukan merupakan bottom-up, sehingga karyawan bisa memulai suatu inovasi. Tentu saja tidak sembarang orang bisa masuk ke Google, hanya orang-orang handal dan terpilih yang bisa bergabung. Karena di Google, kunci inovasi terdapat pada karyawan, sehingga mereka harus mempunyai tim yang benar-benar handal jika ingin inovasinya berjalan dengan baik. Google juga bekerjasama langsung dengan pelanggan dalam melakukan inovasi. Hal ini dapat dilihat melalui Google Experimental, dimana pelanggan diajak untuk berpartisipasi dalam eksperimen yang sedang dijalankan Google, sehingga ke depannya Google bisa melakukan pengembangan terhadap fitur-fitur yang mereka keluarkan. Perubahan organisasional yang dilakukan Google antara lain menghentikan pengembangan beberapa produk demi fokus kepada core business-nya. Dan Google juga membangun momentum sempurna dengan meluncurkan Android di tengah pesatnya perkembangan smartphone di dunia.

3.4 Latar belakang munculnya inovasi

Munculnya inovasi dapat dilatarbelakangi oleh hal-hal sebagai berikut :

· Adanya kebutuhan akan sesuatu yang baru untuk membantu dalam kehidupan

· Keinginan untuk tampil beda dalam meningkatkan pngsa pasar suatu perusahaan

· Merupakan sarana penyaluran kreativitas seseorang

· Ketidakhandalan hal-hal yang dimiliki saat ini, sehingga timbul keinginan untuk mengganti hal tersebut dengan sesuatu yang baru

3.5 Hubungan antara kreativitas dan Inovasi

Kreativitas adalah salah satu factor utama yang mendorong terciptanya sebuah inovasi. Hal ini dikarenakan inovasi adalah sebuah proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, bukan hasil imitasi ataupun penyempurnaan dari produk yang lama, sehingga untuk bisa menghasilkan inovasi maka diperlukan kreativitas didalamnya, karena kreativitas adalah hal yang membuat orang mampu berpikir secara berbeda dan menghasilkan sesuatu yang baru yang disebut inovasi.

3.6 Tujuan inovasi

Tujuan dari melakukan inovasi antara lain adalah:

· Melahirkan sesuatu hal yang baru

· Sarana Menuangkan kreativitas

· Meningkatkan pangsa pasar perusahaan

· Mendapatkan keuntungan lebih bagi perusahaan

3.7 Sistem inovasi nasional

Definisi dari sistim inovasi nasional adalah kerja sama antara kumpulan instansi yang berbeda dan mengkontribusi secara individual untuk mengembangkan dan mendifusikan iptek terbaru melalui suatu kebijakan yang diatur oleh pemerintah sehingga akan memberikan pengaruh dalam proses inovasi.

Cara menganalisa sistem inovasi nasional adalah dengan tiga pendekatan dalam menyerap dan mengembangkan yaitu :

1). pengetahuan bermanfaat untuk kepentingan perkonomian;

2) meningkatnya penggunaan sistem pendekatan; dan

3) tingkat pertumbuhan jumlah instansi yang terlibat dalam pengembangan iptek.

Pendekatan sistem inovasi nasional menekankan pada aliran teknologi informasi diantara manusia, lembaga, dan institusi yang terlibat sebagai kunci dalam proses inovasi. Inovasi dan teknologi dikembangkan untuk memecahkan suatu permasalahan dalam suatu kelompok dengan kelompok lain yang terkait dari beberapa subsistem, meliputi industri, perguruan tinggi, badan penelitian (balitbang). Untuk menentukan kebijakan dalam sistem inovasi naSional ini dapat di lakukan dengan matrik titik terkait terhadap keseluruhan performansi yang ada. Hal itu dapat dikaitkan menjadi suatu sistem untuk membentuk pengembangan teknologi dan inovasi melalui suatu kebijakan dalam jaringan kerja pada masing-masing instansi dan perusahaan.

Kebijakan itu berupa kerangka kerja yang terkait dengan regulasi, pajak, pembiayaan, kompetisi dan hak keahlian intelektual yang digambarkan dalam beberapa tipe interaksi dan aliran iptek. Inovasi teknologi yang diadopsi sesuai dengan spesifikasi struktur industri dan konteks nasional. Agar lebih unggul dalam menjalankan konteks pada sistem ini, maka peran pemerintah dalam pengembangan teknologi harus diikuti dengan kebijakan yang terkini.

Pengukuran dan pengkajian sistem inovasi nasional berpusat pada 4 tipe pengetahuan atau aliran informasi

1) interaksi antara industri, kegiatan proyek kemitraan, dan bentuk lain kolaborasi teknologi;

2) interaksi antara industri, peguruan tinggi dan badan penelitian, termasuk penelitian kemitraan, kerjasama penggunaan paten, kerjasama publikasi dan keterkaitan kerjasama informal;

3) difusi iptek kepada perusahaan, adopsi teknologi, termasuk penggunaan perangkat keras maupun perangkat lunak, dan

4) mobilitas personel, yang difokuskan dalam teknikal asistensi bagi industri (umpama untuk pemberdayaan Industri Kecil dan Menengah atau IKM).

Ada bermacam-macam pendekatan untuk menganalisa sistem inovasi nasional, antara lain analisa kluster yang difokuskan pada interaksi antara jenis dan sektor industri, yang dikelompokan pada teknologi dan karakteristik jaringan kerja. Pendekatan berikutnya adalah analisa pada level yang berbeda berdasarkan sub-regional, nasional, regional dan internasional.

Penetapan hubungan antara sistem inovasi nasional dan peningkatan performansi ekonomi adalah tujuan utama. Dari banyak kajian mengenai mengenai sistem inovasi, dapat dianalisa pada hubungan tingkat interaksi antara pelaku pada hasil inovasi mereka untuk mewujudkan produk baru atau produk perbaikan, hasilnya yakni berupa paten atau produktifitas yang telah dicapai oleh perusahaan. Tetapi dalam tahap pengembangan untuk menganalisa pengaruh dampak positif sangat sulit untuk membandingkan keterkaitan data atau alur informasinya. Tahapan berikutnya yaitu menetapkan indeks antara inovasi-alur hubungan dan pengukuran performansi inovasi.

Studi dari beberapa negara dapat memberikan inspirasi pengukuran aliran informasi antara level subnasional maupun nasional. Sehingga dengan demikian secara garis besar akhirnya akan dapat mengetahui kemampuan dalam mengakses tentang “ distribusi kekuatan pengetahuan “ pada sistem inovasi nasional. Dari hasil-hasil yang diperoleh dalam kombinasi indikator masukan & luaran, kemampuan inovasi lokal, negara atau regional, untuk data-data hasil pengukuran ini lebih dapat dievaluasi dan dipahami. Secara teoritis hal ini dapat memberikan kontribusi kemampuan pengetahuan teoritis yang merupakan suatu komponen kunci yang dapat mempengaruh langsung pada performansi ekonomi.

3.8 Manfaat inovasi

Inovasi dapat memberikan beberapa manfaat sebagai berikut:

· Peningkatan kualitas hidup manusia melalui penemuan-penemuan baru yang membantu dalam proses pemenuhan kebutuhan hidup manusia.

· Memungkinkan suatu perusahaan untuk meningkatkan penjualan dan keuntungan yang dapat diperolehnya.

· Adanya peningkatan dalam kemampuan mendistribusikan kreativitas kedalam wadah penciptaan sesuatu hal yang baru.

· Adanya keanekaragaman produk dan jenisnya didalam pasar.

3.9 Gagasan kreatif penunjang inovasi

Sebuah gagasan bila ingin dikatakan kreatif tidaklah hanya harus baru, misalnya jika kita menyebut 4+4=32890, hal tersebut jelas orisinil, namun tidaklah dapat dikatakan kreatif, agar sebuah gagasan bisa dikatakan kreatif maka gagasan tersebut haruslah orisinil dan juga memiliki relevansi, ia harus bersifat berharga. Menyebut 4+4=44 dengan memasang wajah yang serius dapat dikatakan kreatif karena hal itu lucu, berharga dan mampu membuat orang tertawa.

Itu hanyalah contoh kasar dari sebuah gagasan kreatif, dimana didalam gagasan kreatif tersebut terdapat sebuah inovasi yang mungkin tidaklah benar secara ilmiah, namun hal tersebut menarik dan berharga, inilah dasar penunjang inovasi yaitu kreatifitas yang menarik dan berharga.

3.10 Inovasi titik temu

Inovasi titik temu mengubah dunia dengan loncatan menuju arah baru. Biasanya ia meretas jalan untuk sebuah bidang baru, dank arena itu para penemunya menjadi pemimpin dibidang yang mereka ciptakan. Inovasi titik temu juga tidak memerlukan banyak keahlian seperti inovasi terarah, karena itu ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak terduga. Meskipun inovasi titik temu bersifat radikal, ia dapat bekerja dalam skala besar maupun kecil. Inovasi tersebut dapat mencakup desain pasar swalayan yang besar maupun pengembangan tema sebuah novella, bisa mencakup teknik efek khusus atau pengembangan produk untuk sebuah perusahaan berskala global. Secara ringkas inovasi titik temu mempunyai karakteristik sebagai berikut:

· Mengejutkan dan mempesona

· Meloncat ke arah baru

· Membuka bidang yang baru sama sekali

· Menyediakan ruang bagi orang, organisasi, ataupun perusahaan

· Menghasilkan pengikut, yang berarti penciptanya bisa menjadi pemimpin

· Mencari sumber inovasi terarah untuk tahun-tahun selanjutnya

· Dapat mempengaruhi dunia dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya

3.11 Kewirausahaan dan inovasi

Kewirausahaan dan inovasi sangatlah berhubungan erat, dimana inovasi ini adalah factor yang sangat penting dalam menentukan tingkat keberhasilan dalam kewirausahaan.

Kunci sukses kewirausahaan dan inovasi adalah bergerak dari penemuan ide ke komersialisasi yang efektif dan penerimaan di pasar. Dengan adanya inovasi maka perusahaan akan mendapatkan keunggulan kompetitif seperti:

· Sukar ditiru pesaing

· Bisa dimanfaatkan secara komersial dengan kapabilitas yang ada

· Menyediakan nilai yang berarti bagi pelanggan

· Tepat Waktu

Kewirausahaan korporat dapat terjadi baik sebagai proses bottom-up atau sebagai proses top-down. Perilaku stratejik otonom adalah proses bottom-up di mana Pemenang Produk mengusahakan ide produk baru untuk komersialisasi. Pemenang Produk adalah individu yang memiliki visi kewirausahaan untuk produk baru dan mencari dukungan untuk komerisalisasi produk baru tersebut.

Tatkala deru gelombang krisis menerpa, kehadiran entrepreneurship semakin dibutuhkan. Namun, melahirkan kewirausahawanan sungguh tidak mudah dan mesti bicara mengenai kreativitas. Dengan kreativitas, peluang bisnis dapat dimanfaatkan secara optimal guna menghasilkan keuntungan, yang merupakan inti kewirausahaan. Namun, kedua hal tersebut tidak lahir begitu saja. Kewirausahaan dan kreativitas berasal dari hubungan timbal balik tiga elemen, yaitu karyawan (The Person), tugas (The Task), dan konteks organisasi (The Organizational Context).

Karyawan, melalui kerja keras disertai dedikasi tinggi, melahirkan dan mengimplementasikan ide-ide baru dalam perusahaan. Oleh karena itu sangat penting untuk memahami kepribadian, motivasi, keterampilan, tingkat pengalaman, serta preferensi psikologis karyawan. Tugas (task) mengacu kepada hal-hal yang dikerjakan dalam organisasi. Tugas-tugas yang mesti dikerjakan ditentukan oleh strategi organisasi, serta dipengaruhi oleh lingkungan eksternal seperti perkembangan pasar.

Bagi seorang wirausahawan, tugas-tugas yang relevan mencakup pencarian ide-ide serta pandangan-pandangan baru seputar peluang-peluang baru ( tugas-tugas kreatif), kemudian mewujudkannya menjadi sesuatu yang nyata (tugas-tugas manajerial/operasional). Adapun konteks organisasi adalah setting di mana pekerjaan kreatif dan kewirausahaan berlangsung. Isu-isu yang berkaitan dengan masalah konteks organisasi ini mencakup struktur dan sistem organisasi, definisi peran-peran pekerjaan, serta budaya yang memberikan pengaruh signifikan bagi lingkungan kreatif serta kewirausahaan.

Elemen-elemen di atas (karyawan, tugas-tugas, dan konteks organisasi) beroperasi dalam sebuah lingkungan yang sering kali berada di luar kendali perusahaan. Lingkungan memiliki peran signifikan karena menjadi sumber tersedianya modal, karyawan, informasi, keahlian, dan berbagai layanan profesional.

Faktor lingkungan ini juga dapat memfasilitasi ataupun menghalangi usaha-usaha kreatif dan kewirausahaan. Lingkungan juga menggambarkan situasi persaingan, yang dapat terdiri dari faktor-faktor seperti persaingan, regulasi pemerintah, serta perkembangan teknologi. Berkaitan dengan ketiga elemen serta faktor lingkungan di atas, sebuah perusahaan menghadapi tiga tantangan mendasar. Pertama, mengatasi tantangan secara efektif. Kedua, menyeimbangkan kebutuhan antara diferensiasi dan integrasi, seperti yang dikemukakan oleh Lawrence dan Lorsch. Diferensiasi berarti perbedaan karyawan dalam hal orientasi fungsional dilihat dari sudut pandang kognitif dan emosional. Adapun integrasi berarti kemampuan organisasi melakukan kolaborasi yang dibutuhkan guna menghadapi tantangan lingkungan mencapai integrasi menjadi tujuan yang mengarahkan organisasi kewirausahaan, di mana tugas-tugas yang dilakukan sangat beragam, saling bergantung satu sama lain, dan penting.

Ketiga, mencapai tingkat formalitas struktural sesuai dengan tingkat ketidakpastian dan ambiguitas yang mengiringi tugas-tugas yang dijalankan.

Kreativitas dalam kewirausahaan akan melahirkan inovasi, yang dapat mendorong pertumbuhan perusahaan. Namun, nyatanya tidak semua inovasi berujung pada pertumbuhan. Tidak semua pertumbuhan merupakan hasil inovasi. Berdasarkan tinggi rendahnya tingkat inovasi dan pertumbuhan bisnis, Kirchhoff mengklasifikasikan perusahaan ke dalam empat jenis, yang digambarkan ke dalam empat kuadran.

Kuadran pertama disebut dengan perusahaan inti ekonomi. Perusahaan jenis ini memiliki tingkat pertumbuhan dan inovasi yang rendah. Perusahaan- perusahaan yang tergolong inti ekonomi akan mencapai tingkat pertumbuhan segera setelah didirikan, tetapi begitu dicapai ukuran sesuai dengan kebutuhan atau keinginan pemilik, pertumbuhan tersebut berhenti. Contohnya adalah perusahaan ritel berukuran kecil, perusahaan jasa, dan layanan jasa perbaikan peralatan elektronik. Perusahaan jenis ini berukuran kecil, dimiliki secara perseorangan, serta masih bergelut dengan perjuangan mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Kedua adalah perusahaan ambisius, dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi tetapi dengan inovasi yang rendah. Perusahaan ambisius mencapai tingkat pertumbuhan tinggi dengan satu atau beberapa kombinasi inovasi awal. Sebuah produk dapat menjadi sumber pertumbuhan dalam waktu lama, terutama dalam sebuah pasar yang besar. Contohnya adalah Dell Computer yang membangun metode inovatif dalam mendistribusikan dan melayani mikrokomputer melalui surat menyurat secara langsung. Perusahaan menggunakan kombinasi awal dari inovasi guna secara bertahap meraih lebih dari 5% pasar yang sangat besar dalam kurun waktu 8 tahun. Meski terus menghasilkan berbagai jenis komputer versi baru, tetapi tidak satu pun produk Dell yang merupakan hasil inovasi signifikan karena mikrokomputer secara umum telah distandardisasi. Pertumbuhan dari perusahaan ambisius akan menurun kecuali jika mengembangkan inovasi tambahan, karena lingkungan bisnis berubah sangat cepat.

Ketiga, perusahaan glamor. Dengan tingkat inovasi dan pertumbuhan bisnis yang tinggi. Perusahaan jenis ini menarik perhatian media serta meraih berbagai penghargaan berkat kesuksesan yang diraihnya. Kebanyakan perusahaan seperti ini memiliki akar produk berbasis teknologi, yaitu produk yang terus mengalami perkembangan dan inovasi dari waktu ke waktu. Microsoft adalah contoh perusahaan yang terus melakukan inovasi dalam bisnis software.

Keempat, perusahaan pertumbuhan terbatas, dengan tingkat inovasi yang tinggi tetapi dengan tingkat pertumbuhan yang rendah. Hal ini biasanya diakibatkan terbatasnya sumber daya. Jika pendapatan tidak bertumbuh dengan cepat guna mendukung usaha-usaha inovasi yang mahal, perusahaan akan mengalami kegagalan finansial. Perusahaan yang inovatif tetapi tidak mengejar pertumbuhan yang tinggi akan dengan mudah ditiru oleh pesaing. Jenis perusahaan seperti apa yang diinginkan sangat bergantung kepada visi, sumber daya, serta kompetensi yang dimiliki oleh seorang wirausahawan, dengan tetap memperhatikan faktor-faktor lingkungan eksternal. Kesemua hal ersebut bersifat dinamis.

Biasanya bila dihadapkan dengan inovasi, perusahaan seakan harus melakukan trade-off antara apakah akan mengeksploitir tehnologi yang ada saat ini untuk dapat sekedar bertahan atau mengembangkan suatu tehnologi baru yang mampu memberikan peluang baru dimasa depan. Dimasa booming perusahaan biasanya mengabaikan trade-off ini dan menggelontorkan uangnya untuk kedua proyek tersebut,sebaliknya diwaktu yang sulit, justru perusahaan melakukan pengurangan dana R&D dan melakukan proses perampingan, dengan hanya memberi perhatian pada proyek yang dapat memberikan return yang pasti. Ini adalah sebuah kesalahan karena perusahaan berangkat dari asumsi yang keliru bahwa perusahaan harus melakukan trade-off. Kenyataannya menurut hasil studi ini, inovasi sesungguhnya merupakan karya kreatif dari sekumpulan orang,gagasan dan obyek yang terjadi melalui suatu komunitas yang disebut oleh Hargadon “ technology brokering “.

Proses ini menurut Hargadon, ternyata begitu powerful, karena technology brokers dapat menciptakan kapasitas suatu perusahaan untuk melakukan inovasi tanpa henti.Technology brokers merupakan sebuah strategi yang dikembangkan oleh suatu perusahaan untuk secara cepat dapat melakukan suatu rekombinasi inovasi secara simultan dengan mengatasi jarak maupun kesenjangan yang ada didalam jaringan yang sudah ada dan berbeda dari sebuah industri, perusahaan maupun divisi. Rekombinasi ini dilakukan secara bersama-sama dengan melihat bagaimana suatu gagasan dapat diterapkan dengan dengan cara yang baru, ditempat yang baru;serta dengan membangun sebuah jaringan baru yang menuntun pada kombinasi baru dari sejumlah gagasan kreatif untuk mendapat pengakuan masal.

Thomas Alva Edison, dengan Edison’s Menlo Park, Henry Ford’s Highland park factory, adalah beberapa contoh dari bagaimana bekerjanya suatu jaringan inovasi yang mengaitkan sejumlah orang, gagasan,dan obyek yang secara bersama dengan membentuk suatu komunitas dan tehnologi yang tahan lama.

Hal menarik yang terungkap dari studi Hargadon ini ternyata jauh dari mitos yang selama ini diyakini oleh banyak orang bahwa inovasi merupakan hasil temuan dari seorang yang jenius,ataupun mitologi penemu yang heroik seperti Edison,Ford dan lain lain. Kenyataan empiris yang terungkap dari penelitian yang dilakukan Hargadon, lewat bukunya Breakthrough Innovation justru memperlihatkan kebalikannya.

Inovasi ternyata dihasilkan melalui suatu konektivitas yang terjalin dalam suatu innovation network yang apik,seperti apa yang dikatakan oleh Isaac Newton,”if I have seen further than other men, it’s because I have stood on the shoulders of giants” .

Menurut Hargadon, ada dua hal yang menarik tentang inovasi . Pertama, inovasi merupakan sebuah hasil sintesa gagasan dari berbagai domain,atau sering merupakan hasil dari ‘recombinant invention’, kedua, breakthrough innovation bukanlah didominasi oleh kreativitas individual. Penelitian empiris justru membuktikan sebaliknya,dengan secara sederhana mengeksploitir suatu jaringan gagasan didalam suatu kerangka organisasi yang unik,justru bermunculan inovasi yang rutin. Labih jauh Hargadon mengatakan bahwa peranan dari suatu komunitas yang saling terkait justru menjadi esensi dari hadirnya sejumlah breaktrough innovation.

3.12 Tiga aspek kunci untuk menjadi sang jawara inovasi

Terdapat tiga aspek kunci dalam perlombaan untuk menjadi sang jawara inovasi, yaitu:

· Aspek yang pertama adalah, penciptaan iklim inovasi dalam denyut kehidupan suatu perusahaan. Tentu saja harus segera disebut bahwa penciptaan iklim ini tidak hanya dapat dilakukan melalui aneka slogan atau lips service belaka. Iklim ini hanya bisa mekar melalui sistem pengelolaan manajemen yang demokratis, bergerak cair dalam lintas departemen, dan diusung melalui pola kepemimpinan yang terbuka terhadap beragam ide baru, betapapun radikalnya ide baru itu. Dalam kenyataannnya, pola kepemimpinan yang demokratis bahkan disebut sebagai faktor kunci bagi mekarnya kreativitas diantara para karyawan. Tanpa pola kepemimpinan yang empowering, maka barisan karyawan yang penuh daya kreativitas sekalipun, niscaya akan layu dan tenggelam dalam frustasi lantaran ide-idenya selalu terbentur dengan tembok birokrasi yang mematikan.

· Aspek yang kedua, adalah adanya visi dan arah yang jelas mengenai strategi perusahaan menghadapi lansekap pasar masa depan. Tanpa strategi yang jelas, acapkali proses inovatif yang telah dimunculkan hanya akan berputar-putar ditempat tanpa mampu diterjemahkan menjadi produk unggul yang menguntungkan dan menang di pasaran.

· Aspek yang terakhir yang juga layak diperhatikan ketika perusahaan hendak berinovasi adalah kepekaan mengantisipasi kebutuhan masa depan pelanggan. Keberhasilan fenomenal Apple dalam mendesain dan menjual Ipod sungguh tak lepas dari kepaiawaian mereka dalam mengendus perubahan gaya hidup pelanggan menuju digital lifestyle. Dan kini, mereka mencoba menduplikasi kesuksesan IPod dengan meluncurkan Iphone, sebuah produk inovatif yang mendandung banyak decak kagum. Kisah sukses Apple ini mengindikasikan bahwa strategi inovasi yang jitu mesti harus selalu ditautkan dengan dinamika kebutuhan pelanggan, atac acap disebut sebagai customer driven innovation strategy.

Proses menjadi perusahaan yang inovatif memang tidaklah mudah. Dibutuhkan energi, nafas yang panjang dan juga dana yang besar untuk melaksanakan tiga aspek diatas secara optimal. Namun kini ketika hidup terus bergerak kearah yang makin hiper-modern, barangkali pilihannya memang tinggal inovasi atau mati. Mati pelan-pelan dalam kuburan produk-produk usang yang membosankan.

3.13 Innovator or imitator

“Tujuan utama dari bisnis adalah untuk menciptakan pelanggan….Untuk mencapai tujuan ini, ada dua hal penting yaitu inovasi dan marketing“, kata Peter F Drucker dalam bukunya The Practice of Management. Kata-kata ini sudah dikutip ribuan kali baik oleh para proff maupun CEO dari perusahaan-perusahaan besar. Kata-kata ini mungkin akan dianggap sebagai kalimat biasa bila diucapkan hari ini, biarpun seorang pakar top yang mengucapkan. Perusahaan sudah lama sadar bahwa membangun bisnis haruslah memperhatikan pelanggan dan ini harus dilakukan secara inovatif. Siapa yang dapat membayangkan bahwa Peter Drucker sudah melontarkan ide ini kira-kira 55 tahun yang lalu? Inilah kehebatan Drucker, seorang pakar manajemen yang karya dan idenya sangat disegani. Kemampuannya membaca trend jauh ke depan telah banyak membantu para manejer dan praktisi di seluruh dunia. Karena dalam marketing, inovatif juga sangat penting, maka banyak yang sudah mulai mengoreksi perkataan Peter F. Drucker. Tidak perlu dengan inovasi dan marketing tetapi cukup satu kata “inovasi”.

Inovasi dan menjadi perusahaan yang inovatif ! Ini sudah menjadi simbol kebanggan perusahaan. Dengan kata lain, perusahaan yang inovatif adalah perusahaan yang sudah pasti sukses. Perusahaan yang sekedar meniru dan sebagai pengikut, tidak akan pernah sukses. Tipe perusahaan seperti ini, tidak perlu disegani dan ditakuti oleh pemimpin pasar. “Copying is less estimable than inventing. Imitation is less honorable than innovation“ kata salah satu CEO perusahaan besar. Attitude ini seperti ini memang sudah menjadi keyakinan banyak perusahaan-perusahaan besar di negara maju terutama Amerika. Perusahaan imitator atau individu imitator sering di-cap sebagai pemalsu, peniru, tukang contek atau bahkan sebagai bandit yang melanggar hukum perdata.

Perusahaan yang inovatif sering identik dengan perusahaan yang selalu menjadi pionir untuk suatu produk baru. Lalu, pertanyaan yang perlu diajukan; benarkah menjadi inovatif dan selalu yang pertama dalam pasar menjamin kesuksesan di kemudian hari? Bila ditelusuri, ternyata masih banyak contoh dimana imitator kemudian mengungguli perusahaan yang lebih dulu mengembangkan produk baru. Atau “me-too product” akhirnya menyingkirkan sang pionir.

Dalam dunia kamera, Leica dan Contrax adalah pionir. Hari ini, Canon dan Nikon adalah dua merek yang terdepan. Bahkan untuk pasar Indonesia, kamera Fuji yang datang lebih terlambat, menjadi nomor satu. Dalam bidang industri kartu kredit, Dinners Club adalah sang pionir tetapi kemudian Visa dan Amex mengambil alih posisi sang pionir. ATM di Indonesia, banyak dipopulerkan oleh Bank Niaga. Hari ini, BCA dan Mandiri sudah meninggalkan Bank Niaga dalam hal ini. Atau, kita lihat Jepang tempo dulu. Negara ini di-cap sebagai bangsa peniru. Label ini sekarang lebih banyak diberikan kepada perusahaan-perusahaan dari negara Korea, Taiwan, Hongkong atau Cina. Buktinya, negara-negara ini juga sukses di pasaran dunia.

Definisi imitator sendiri memang agak kabur. Orang lebih suka untuk mengatakan bahwa imitator itu mempunyai beberapa tingkatan. Paling rendah, adalah penjiplak yang sering dinggap pelanggar hukum. Dalam bahasa sehari- harinya, mereka disebut pemalsu. Tingkatan imitator yang lebih tinggi adalah “clone”. Mereka membuat produk yang sama persis dengan produk sang pionir tetapi dengan merek milik mereka sendiri. Hal ini dapat terjadi oleh karena tidak adanya perlindungan paten. Tingkatan tertinggi dari imitator adalah “creative imitator”. Langkah pertama adalah meniru si pionir. Setalah itu, mereka berusaha mengamati dan belajar dari kesalahan atau yang disebut “learning by watching”. Imitator yang sukses biasanya bertindak seperti ini. Jadi bukan sekedar meniru dan berhenti.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Inovasi merupakan salah satu aktivitas yang di zaman sekarang menjadi sangat penting. Mengapa? Hal ini karena inovasi seringkali merupakan jaminan bisnis dalam memperoleh keunggulan di pasar. Sayangnya, tidak semua dapat menjalankan inovasi dengan baik.

Untuk melakukan suatu inovasi, seringkali perusahaan harus melakukan perubahan besar, mulai dari mengubah prosedur, struktur organisasi, mengubah model bisnis, bahkan membentuk unit bisnis yang baru. Menurut Midgley, untuk menentukan perubahan seperti apa yang dibutuhkan oleh organisasi, maka terlebih dulu harus dipahami mengenai tantangan apa yang dihadirkan oleh inovasi.

Pertama, customer challenge, yakni sejauh mana Anda dapat menjangkau pelanggan selain dari pelanggan lama. Contohnya adalah Nintendo Wii, yang berhasil menjangkau target pelanggan baru, yakni orang-orang yang sebelumnya tidak pernah memainkan video game. Kedua, yakni technology challenge, misalnya PS3, dimana Sony menemukan superprocessor baru untuk konsol game dan pelanggan mereka. Terakhir, business model challenge, yakni tantangan bagaimana perusahaan bisa menghasilkan uang melalui value chain yang baru.

4.2 Saran

Inovasi perlu dikelola dengan baik supaya sumber daya yang digunakan jadi lebih efisien. Langkah-langkah yang sudah disebutkan diatas dapat menjadi suatu petunjuk praktis dalam berinovasi. Selain itu, pelajari juga contoh-contoh kasus perusahaan di dunia bagaimana mereka bisa sukses melakukan inovasi. Dan analisa bagaimana perusahaan Anda dapat melakukan hal yang serupa.

Leave a Reply